Kesalahan, Penyimpangan Sayyid Quthb dan kebid’ahan-kebidahannya


Berikut adalah poin-poin beberapa kesalahan Quthb dalam ‘aqidah  maupun sebagian perinciannya:

SAYYID QUTB MENGATAKAN AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK (AL-QUR’AN DIBUAT) [PERKATAAN DARI JAHMIYYAH]. [ ! Aoodhubillaah ]

Ulama’ tabi’in, Amr bin Dinar-rahimahullah- berkata ijma’ para salaf :
“Aku telah mendengarkan para guru-guru kami berkata sejak 70 tahun, “Al-Qur’an adalah kalamulloh, bukan makhluk”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (1/190)]

[1]. Ketika Sayyid Quthub berbicara tentang Al-Qur’an, dia mengatakan : “Mukjizat Al-Qur’an, seperti perkara segenap makhluk Allah, dan ini seperti penciptaan Allah atas segala sesuatu, serta karya manusia” (Fii Zhilalil Qur’an (1/38)

[2]. Setelah Sayyidh Quthub membicarakan huruf-huruf yang terputus didalam Al-Qur’an, dia berkomentar : “Akan tetapi, mereka tidak mampu mengarang kitab sebanding denganNya (Al-Qur’an), karena Al-Qur’an itu buatan Allah, bukan buatan manusia” (Idem 5/2719)

[3]. Sayyid Quthub mengomentari surat “Shood” : “Huruf shood ini, Allah bersumpah denganNya, sebagaimana Allah bersumpah dengan Al-Qur’an yang banyak mengingatkan. Huruf ini adalah ciptaanNya, Dia-lah yang menjadikannya ada, dan menjadikannya berbentuk suara dalam tenggorokan” (Idem 5/3006)

Syaikh Abdullah Ad-Duwaisy rahimahullah membantah perkataan diatas : “Perkataan Sayyid Quthub, bahwa huruf “shood” ini adalah ciptaan Allah, dan Dia-lah yang menjadikannya, adalah perkataan Jahmiyah dan Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Adapun Ahlus Sunnah maka mereka berpendapat, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan (kepada Nabi-Nya), dan bukan makhluk” (Al-Maurid Az-Zullat Fit Tanbih Ala Akhthoi Tafsir Adh-Dhilaal, hal.180)

Abu Bakr bin Ayyasy-rahimahullah- berkata,

“Barangsiapa yang menyangka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia menurut kami adalah kafir lagi zindiq, dan musuh Allah; kami tak akan menemaninya duduk, dan tak akan mengajaknya berbicara”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari'ah (no. 163), Abu Dawud dalam Al-Masa'il (hal. 267), dan Al-Bukhoriy dalam Kholq Af'al Al-Ibad (hal. 119)]

Al-Imam Ash-Shobuniy-rahimahullah- (wft 449 H) dalam Aqidah As-Salaf (hal. 40) berkata,

“Ashabul Hadits (yakni, Ahlus Sunnah wal Jama’ah) mempersaksikan, dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan sesuatu yang Allah turunkan, bukan makhluk!! Barangsiapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir di sisi Ahlus Sunnah”.

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawiy-rahimahullah- (wft 321 H) berkata saat menyebutkan aqidah Ahlus Sunnah,

Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah). Dari-Nya Al-Qur’an muncul -tanpa kaifiyyah-, dalam bentuk ucapan; Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu.

Al-Qur’an telah dibenarkan oleh orang-orang beriman dengan benar; mereka meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah secara hakiki, bukan makhluk sebagaimana halnya ucapan manusia. Barangsiapa yang mendengarnya, dan menyangkanya sebagai ucapan manusia, maka ia kafir”. [Lihat Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (hal. 41)]

Inilah beberapa nukilan dan pernyataan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari zaman ke zaman bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan, dan firman Allah), bukan makhluk. Barangsiapa yang menyangka –seperti halnya orang Jahmiyyah- bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia kafir.

Al-Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata,

Al-Qur’an adalah ucapan Allah -Azza wa Jalla-, bukan makhluk. Barangsiapa yang berkata, “Al-Qur’an adalah makhluk”, maka ia kafir”. [HR. Al-Ajurriy dalam Asy-Syari'ah (1/224)]

Para ulama rahimahumullah membedakan antara takfir secara mutlak dan takfir mu’ayyan. Mereka seringkali menyatakan takfir secara mutlak (umum), seperti: “Barangsiapa mengatakan atau melakukan perbuatan demikian dan demikian maka ia kafir (tanpa menyebut nama pelakunya).” Namun ketika masuk kepada takfir mu’ayyan (untuk orang-orang tertentu) maka mereka sangat berhati-hati. Karena tidak semua yang mengatakan atau melakukan perbuatan kekafiran berhak divonis kafir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Suatu perkataan kadangkala termasuk dari bentuk kekafiran, maka pelakunya boleh dikafirkan secara umum, dengan dikatakan: ‘Barangsiapa mengatakan demikian maka ia kafir (tanpa menyebut nama pelakunya -pen).’ Namun untuk pribadi orang yang mengatakannya tidaklah langsung divonis kafir sampai benar-benar tegak (disampaikan) kepadanya hujjah.” (Fitnatut Takfir, hal. 49).

Sayyid Qutb sempat ditegur dan disurati oleh Syaikh Mahmud Syakir (adiknya Ahmad Syakir) seorang Ulama Mesir dalam bidang Tarikh (Syaikh Ahmad Syakir Ulama Mesir dalam bidang hadits). Syaikh Mahmud Syakir menulis surat untuk Sayyid Qutb atas tulisan-tulisannya, tetapi surat Syaikh Mahmud Syakir dibantah oleh Sayyid Qutb dengan marah-marah demi membela tulisannya……. (#harap maklum Sayyid Qutb itukan Lulusan D3 Pendidikan, Sarjana Sastra, Magister Pendidikan Lulusan Eropa… wajar kalo Bodoh dlm Agama…)

KERANCUAN PEMAHAMAN SAYYID QUTHB TERHADAP “LA ILAAHA ILLALLAH”

Pemikiran takfir Sayyid Quthb merupakan akibat dari aqidah dan keyakinan yang salah terhadap makna kalimat tauhid La Ilaaha Illallah. Dia menafsirkan kata ilah dengan Al-Hakim (yang menghukumi). Penafsiran ini persis seperti pemikiran Abul A’la Al Maududi yang ternyata mengambil pemahaman ini dari seorang ahli filsafat barat, yaitu Haigle dalam bukunya Al Hukumah Al Kulliyah (Pemerintahan yang Menyeluruh). Syaikh Nadzir Al Kasymiri (seorang ulama’ Salaf India) berkata : ”Syaikh Maududi menampilkan pemikiran filsafat barat dari buku Al Hukumah Al Kulliyah dengan dibungkus pemikiran Islam.” (Adlwa’ Islamiyah hal. 59)

Sebagai contoh, kita nukilkan di sini terjemahan ucapan Sayyid dalam bukunya Al Adalah Al Ijtima’iyah (Keadilan Sosial) hal.182 cet.12 : ”Sesungguhnya perkara yang meyakinkan dalam Dien ini adalah bahwasanya tidak akan tegak di hati ini aqidah dan tidak pula dalam kehidupan dunia, kecuali dengan mempersaksikan bahwasanya La ilaaha illallah, yaitu La hakimiyah illa lillah (tidak ada kehakiman kecuali untuk Allah), hakimiyah yang berujud qadla dan qadar-Nya sebagaimana terwujud dalam syariat dan perintah-Nya.

Demikian pula ucapannya dalam menafsirkan surat Al Qashash : Huwallahulladzi la ilaaha illahuwa. Dia berkata : ”Yaitu tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan dan ikhtiar”. (Fi Zhilalil Qur’an 5/2707).

Bahkan lebih jelas lagi dia berkata dalam tafsir surat An Nas bahwa Al Ilah adalah Al Musta’li, Al Mustauli, Al Mutasallith (Fi Zhilalil Qur’an 6/4010) yang semuanya bermakna kurang lebih sama yaitu ”Yang Menguasai”.

Demikian Sayyid mempersempit makna illah hanya kepada rububiyah dan melalaikan makna yang hakiki dari kata ilah yang mengandung makna uluhiyah yaitu “Yang Berhak untuk diibadahi”. Penafsiran Sayyid ini jelas bertentangan dengan penafsiran para ulama’ Ahlus Sunnah.

Ibnu Jarir berkata dalam menafsirkan surat Al Qashash di atas : ”Allah yang Maha Tinggi sebutannya, Rabb kamu – wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam – adalah yang berhak untuk diibadahi yang tidak layak peribadatan itu diberikan kecuali kepada-Nya dan tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia”. (Tafsir Ath Thabari 20/102)

Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan : ”Yaitu yang menyendiri dengan uluhiyah dan tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia. Sebagaimana tidak ada penguasa yang menciptakan apa yang dikehendakinya dan memilih sekehendaknya kecuali Dia”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/398)

Demikianlah para ulama’ Ahlus Sunnah memahami kalimat tauhid seperti pemahaman para pendahulunya dari kalangan salafus shalih, yaitu tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah (uluhiyah) yang terkandung di dalamnya makna rububiyah dan asma’ wa sifat. Adapun pemahaman Sayyid bahwa al ilah adalah al hakim atau al musta’li, al mustauli dan al mutasallith (penguasa), maka perlu dipertanyakan dari mana dia mendapatkan pemahaman seperti ini. Siapa yang memahami demikian dari kalangan shahabat atau para ulama’ Salaf?

Pemahaman ini jelas menyimpang karena Ahlus Sunnah secara umum telah memahami bahwa tauhid rububiyah (yaitu mengakui bahwa Allah Penguasa dan Pencipta telah diakui juga oleh sebagian besar orang-orang musyrik jahiliyah).

Allah berfirman tentang mereka :

“Katakanlah : ‘Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab : ’Kepunyaan Allah’, Katakanlah : ’Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah : ’Siapa pemilik langit yang tujuh dan Pemilik ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab : ’Kepunyaan Allah’. Katakanlah : ’Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’. Katakanlah : ’Siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?’. Mereka akan menjawab : ’Kepunyaan Allah’. Katakanlah : ’(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’ ” (Al Mukminun 84-89)
Lupakah Sayyid tentang ayat-ayat Allah yang menjelaskan makna kalimat tauhid dengan tauhid ibadah, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya? Allah berfirman :

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : ’Bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’ ” (Al Anbiya 25)

Kita sama-sama mengetahui betapa luasnya makna ibadah yang mencakup keyakinan, kecintaan, ketaatan, pengabdian, pengagungan, ketundukan, kekhusyu’an, ketakutan, harapan dan juga mencakup amalan badan seperti sujud, ruku’, thawaf, doa, istighatsah, isti’anah serta mencakup puji-pujian lisan seperti tashbih, tahmid, tahlil, takbir dan lain-lain. Semua itu dilakukan oleh hamba karena rasa butuh hamba kepada Allah dalam rangka menghambakan diri dan beribadah kepada Allah. Tidak diberikan jenis-jenis peribadatan ini kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Anehnya Sayyid Quthb membawa nama arab dan bahasa arab dalam “pemahamannya” itu. Dia berkata : ”… bahwasanya mereka (orang-orang arab) dahulu telah mengetahui dengan bahasa mereka apa itu makna ilah dan makna laa ilaah illallah … . Mereka mengetahui bahwa uluhiyah adalah hakimiyah yang paling tinggi (Fi Zhilal 2/1005)

Dia juga berkata dalam halaman berikutnya : ”Laa Ilaaha Illallah sebagaimana dipahamai oleh orang arab yang mengerti apa-apa yang ditunjukkan oleh bahasanya yaitu : Tidak ada hakimiyah kecuali dari Allah serta tidak ada syariat kecuali dari Allah serta tidak ada kekuasaan seseorang atas seseorang karena kekuasaan seluruhnya milik Allah” (Fi Zhilal 2/1006).

Syaikh Rabi’ dalam membantah ucapan ini berkata : ”Sesungguhnya apa yang dinisbahkan oleh Sayyid kepada bahasa arab yaitu tentang makna uluhiyah adalah hakimiyah, tidak dikenal oleh orang arab dan tidak pula dikenal oleh pakar-pakar bahasa arab ataupun selain mereka. Bahkan al ilah menurut orang arab adalah al ma’nud (yang diibadahi) yang para hamba mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah disertai ketundukan, penghinaan diri, kecintaan dan ketakutan, … . Bukan bermakna sesuatu yang mereka berhukum kepadanya”. (Adlwa’ Islamiyah hal. 63)

Orang-orang arab jahiliyah dahulu memiliki tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin yang mereka berhukum kepadanya, tetapi mereka tidak menamakannya Ilah (sesembahan). Bahkan sebaliknya, mereka memiliki berhala-berhala yang mereka namakan Ilah-Ilah. Seperti Latta yang berbentuk kuburan. Uzza yang berbentuk tempat keramat, serta patung-patung lainnya yang mereka bertawasul, berkurban dan beribadah padanya, tetapi mereka tidak mereka menamakan perbuatan mereka dengan berhukum, bertahkim atau hakimiyah.

Demikian pula dimasa mereka terdapat raja-raja di timur dan di barat, tapi mereka tidak menamakannya dengan ilah.

Ingat! Yang kita bantah disini bukan kewajiban bertahkim pada Allah, melainkan pemahaman sempit Sayyid Qutb yang mengatasnamakan bahasa arab dan orang-orang arab. Padahal sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab bahwa makna ilah adalah hakim.

KABURNYA PEMAHAMAN SAYYID TERHADAP RUBUBIYYAH DAN ULUHIYYAH, DIA MENGKLAIM BAHWA TITIK SENGKETA ANTARA RASUL DAN ORANG MUSYRIK ITU SEHUBUNGAN DENGAN TAUHID AR-RUBUBIYYAH SAJA DAN BAHWA TIDAK KEPADA TAUHID AL-ULUHIYYAH

Kadang-kadang Sayyid menafsirkan makna uluhiyyah dengan rububiyyah. Terkadang pula sebaliknya. Sayyid berkata dalam tafsir surat Ibrahim 52 : “Makna Al Ilah adalah Dzat yang berhak menjadi rabb yaitu yang menghakimi, yang memiliki, yang berbuat, yang membuat syari’at dan yang mengarahkan. (Fi Zhilalil Qur’an : 4/2114)

Bahkan dia berkata bahwa pertikaian antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum musyrikin jahiliyyah adalah dalam masalah rububiyyah. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh seluruh ulama’ Ahlussunnah. Dia mengatakan : ”Perkara uluhiyyah sedikit sekali menjadi bahan pertikaian pada kebanyakan orang-orang jahiliyyah, khususnya jahiliyyah arab. Hanya saja yang menjadi bahan pertikaian adalah masalah rububiyyah. Yaitu masalah penerapan dien pada kehidupan dunia ini, berupa amal nyata yang mempengaruhi kehidupan manusia.” (Fi Zhilal : 4 / 1846)

Dari ucapan ini terlihat bahwa Sayyid tidak dapat membedakan antara uluhiyyah dan rububiyyah. Kemudian apakah akibat dari kerancuan pemahaman Sayyid terhadap Rububiyyah dan Uluhiyyah dan sempitanya pandangan Sayyid terhadap Laa ilaaha illallah ini?

PENOLAKAN (PENGINGKARAN) NYA DARI BEBERAPA ASMA DAN SIFAT ALLAH CARA DAN GAYA JAHMIYYAH TERSEBUT. [CARA DARI MU'ATTILAH] [ ! A'udhubillaah ]

DIA MENGKLAIM BAHWA SIFAT (ASMA ALLAH) HANYALAH IMAJINASI BELAKA (TAKHYIL).

Dan bagi mereka yang menyerukan Hakimiyyah dan menaikkan panji-panji yang tinggi, maka dikenal siswa terendah pengetahuan bahwa Hakimiyyah Allah Azzawajall berlaku bahkan lebih sehingga untuk Dzat-Nya, Nama-Nya dan Sifat [serta syari'at-Nya dll] Jadi orang yang tidak menghakimi – dalam hal yang terkait dengan pengetahuan tentang Allah – dengan apa yang Allah telah mengungkapkan – maka itu lebih cocok baginya untuk diberi label penolak dari Hakimiyyah Allah Azzawajall. Apa yang diperlukan adalah keadilan dan adil berbicara dan berbicara kebenaran, bahkan jika itu melawan jiwa sendiri – dan menerapkan prinsip-prinsip dasar Kepercayaan Islam adil dan cukup kepada setiap individu bahwa berlaku untuk mereka – dan ini adalah tanda dari kejujuran Muslim , integritas dan cinta untuk Wahyu Allah.

PENOLAKAN QUTHB TENTANG AL-‘ULUWW DAN AL-ISTIWAA `DAN AL-‘ARSY CARA JAHMIYYAH [ Audhubillaah! ]

Sebagai contoh nya penolakan Istiwaa dengan menjelaskan bahwa itu tidak ada – itu hanyalah ungkapan kiasan saat ia mengatakan dalam Zilaal nya (3 / 1762) dan juga di banyak tempat lain seperti: (1 / 53), (/ 1 / 54) , (3 / 1296), (4 / 2045), (5 / 2807)

DIA MENGATAKAN BAHWA KEBERADAAN ALLOH BISA MENYATU (WIHDATUL WUJUD). [CARA DARI SUFIYYAH]

Dalam penjelasannya Surah Ikhlaas dan juga awal Surah Hasyr. Ia mengatakan, misalnya, dalam Zilaal nya (6 / 4002): ““Itulah keesaan wujud Allah, di sana tiada hakikat melainkan hakikat Allah, tiada kewujudan hakiki melainkan kewujudan Allah. Segala maujud yang lain adalah mengambil kewujudan mereka dari kewujudan Allah yang hakiki dan mengambil hakikat mereka dari hakikat Allah yang sejati.

DAN DALAM BEBERAPA BUKU LAIN, SAYYID QUTHB MENEGASKAN INI DAN JUGA PUJIAN SUFY DAN TINDAKAN MEREKA

Dia mengatakan dalam Zilaal nya (6 / 3291): “Dan ada orang yang menyembah Allah, karena mereka berterima kasih atas nikmat-Nya yang mereka tidak dapat menghitung – dan di belakang ibadah ini, mereka tidak mencari surga atau neraka, atau untuk kesenangan atau hukuman sama sekali … “
dia mengatakan dari berdiamnya ilahi (hulul*) dan juga Jabr (manusia tidak memiliki kehendak bebas – dipaksa untuk bertindak). [Cara dari Jabariyyah].

Syaikh ul-Islam Ibnu Baz (rahimahullaah) ditanya, ” seseorang yang memuji Ahlul Bid’ah-, apakah ia dianggap di antara mereka?” beliau menjawab, “Ya, tidak ada keraguan tentang hal ini, orang yang memuji mereka adalah salah satu bagian dari mereka “.
Kaset: Aqwaal ul-ulama Fi Sayyid Quthb

DAN JUGA PENOLAKAN TENTANG MIZAAN (TIMBANGAN) CARA DAN GAYA DARI JAHMIYYAH (4 / 2481).

DIA MENYANGKAL TERHADAP MU’JIZAT RASUL (SHALLALLAHU ALAYHI WASALLAM).

DIA MENOLAK PENERIMAAN HADITS AHAAD DALAM MASALAH AQIDAH. [JALAN MU'TAZILAH]
Dia mengatakan dalam Zilaal nya (6 / 4008): “Dan hadits Aahaad tidak harus diambil dalam masalah aqidah, sumbernya adalah Al-Qur’an – dan sesuatu yang mutawaatir adalah suatu kondisi [yang harus dipenuhi] di menerima hadits dalam masalah keyakinan … ” Dan dalam hal ini dia lebih sesat daripada Ash’ariyyah

PENOLAKANNYA DARI SIHIR YANG TERTIMPA PADA RASULULLAH (SHALLALLAHU ALAYHI WASALLAM).

QUTHB MENYANGKAL BAHWA NABI ISA (‘ALAIHI SALLAM) TELAH DIANGKAT KE LANGIT [ Audhubillaah! ]

IDE PENGKAFIRAN SAYYID QUTHB 

Pengkafiran Sayyid Quthub terhadap sahabat Abu Sofyan Radhiyallahu ‘anhu. Sayyid Quthb berkata : “Abu Sufyan adalah seorang lelaki yang bertemu dengan Islam dan kaum muslimin, lembaran-lembaran sejarah mencatatnya, dan dia tidak masuk Islam kecuali telah nampak kemenangan Islam, sehingga Islamnya sebatas bibir dan lisan, bukan keimanan hati dan perasaan. Dan Islam tidaklah masuk kedalam hati lelaki tersebut” (Majalah “Al-Muslimun” edisi 3 tahuun 1371H)

PENGKAFIRAN SAYYID TERHADAP KAUM MUSLIMIN

Akibatnya sungguh mengerikan! Dia mengkafirkan seluruh kaum muslimin dan umat islam secara tersirat dan tersurat dan meremehkan kesyirikan dalam masalah ibadah. Perhatikanlah ucapannya : ”Termasuk dalam ruang lingkup masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang mengaku dirinya muslim. Masyarakat tersebut masuk kedalam lingkungan ini bukan karena meyakini uluhiyah kepada selain Allah dan tidak pula menghadapkan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah, tetapi mereka masuk ke dalam masyarakat jahiliyah ini karena tidak beragama dengan ‘peribadatan’ pada Allah dalam undang-undang kehidupan mereka. Maka yang demikian walaupun mereka tidak meyakini uluhiyyah seorangpun kecuali Allah tetapi mereka telah memberikan yang paling istimewa dari keistimewaan- keistimewaan ketuhanan pada selain Allah dan beragama dengan hakimiyah pada selain Allah.” (Fi Zhilal)

Tampak dari ucapannya bahwa masyarakat Islam hanya pengakuan, padahal sebenarnya mereka adalah masyarakat jahiliyah. Terkesan pula bahwa memberikan syiar-syiar kepada selain Allah adalah masalah sepele, bahkan sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Rabi’ bahwa hampir pada semua tulisan Sayyid dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an dan yang lainnya tidak memperdulikan para penyembah kubur, orang-orang yang melampaui batas dalam terhadap ahlul bait dan para wali, serta orang-orang yang memberikan sifat-sifat uluhiyyah dan ubudiyyah kepada mereka. Dia tidak menghukumi manusia kecuali dengan penyelisihannya terhadap hakimiyyah. Dan penafsiran Sayyid terhadap Laa ilaaha illallah tidak keluar dari hakimiyyah, kekuasaan, dan kepemimpinan semata.

Juga ucapan Sayyid ketika menafsirkan surat Yusuf 106 :

Tidaklah kebanyakan mereka beriman pada Allah kecuali dalam keadaan musyrik.” (Surat Yusuf 106)

Setelah Sayyid menyebutkan syirik yang samar dia mengatakan : ”Dan di sana ada syirik yang tampak jelas yaitu tunduk kepada selain Allah dalam salah satu urusan kehidupan dan tunduk kepada aturan syari’at yang dijadikan oleh manusia sebagai hukum. Hal ini merupakan asas dalam kesyirikan yang tidak bisa dibantah. Demikian pula tunduk kepada adat-adat kebiasaan seperti mengadakan perayaan-perayaan, musim-musim yang diatur oleh manusia padahal tidak disyariatkan oleh Allah, tunduk pada aturan pakaian yang menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah untuk ditutupi dan membuka aurat-aurat yang syariat Allah telah menetapkan untuk ditutupi[1]. Urusan seperti ini lebih dari sekedar pelanggaran dan dosa penyelisihan syariat, karena urusan itu merupakan ketaatan dan ketundukan pada pemahaman yang umum pada masyarakat berupa ciptaan hamba dan meninggalkan perkara yang jelas yang muncul dari penguasa para hamba. Sesungguhnya ketika itu bukan lagi dia sebagai dosa melainkan pensyariatan karena yang demikian merupakan ketundukan pada selain Allah dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah.” (Fi Zhilalil Qur’an 4/2023)

Dalam ucapan Sayyid diatas terdapat dua bahaya besar. Pertama, pengkafiran kaum muslimin karena dosa-dosa seperti mengikuti adat kebiasaan, berpakaian yang menyelisihi syari’at dan lain-lain. Kedua, penafsiran Al Qur’an tidak seperti apa yang dikehendaki Allah khususnya dalam masalah kesyirikan.Hal ini terjadi karena Sayyid bersikap ghuluw pada masalah hakimiyah sampai-sampai dia berkata : “Sesungguhnya kesyirikan mereka ( jahiliyah) yang asasi bukan dalam keyakinan tapi dalam masalah hakimiyah” (Fi Zhilal : 3/1492)

Sungguh aneh pemahaman Sayyid ini. Bagaimana kira-kira dia menghukumi raja Najasyi yang masuk islam dengan keyakinannya dan belum sempat mempraktekkan hukum-hukum islam dan belum menerapkan Al Hakimiyah di negaranya? Kalau menurut pemahaman Sayyid berarti dia tetap kafir karena menurutnya kesyirikan hakiki adalah pada penerapan hakimiyah dan bukan pada masalah keyakinan!

Adapun pemahaman Ahlus Sunnah adalah pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda kepada para shahabat ketika mendengar raja Najasyi meninggal :

“Telah meninggal hari ini seorang yang shalih dari habasyah. Marilah kemari ! Shalatkanlah dia!” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 3/1320)

Bagaimanakah pendapat anda kalau raja Najasyi menerapkan hakimiyah tetapi tidak meyakini aqidah tauhid den beribadah kepada kuburan-kuburan? Apakah Rasulullah akan menganggap dia sebagai muslim?!

TAKFIR QUTHB TERHADAP MU’AWIYAH, ‘AMR BIN AL-AAS, ABU SUFYAN DAN BANI UMAYYAH (RADIALLAAHU’ ANHUM)! [ Audhubillaah! ]

ANGGAPAN SAYYID BAHWA UMAT ISLAM TELAH LENYAP

Saudarakau kaum muslimin, sesungguhnya Sayyid Quthb tidak menganggap keberadaan kita sebagai kaum Muslimin. Dia menganggap umat Islam telah lenyap dengan lenyapnya kekhilafahan! Lihatlah dia berkata dalam bukunya Hadlirul Islam wa Mustaqbaluh (Islam kini dan Esok) : ”Kami mengajak untuk mengembalikan kehidupan Islami dalam masyarakat yang Islami dengan hukum aqidah Islam dan pandangan yang Islami, sebagaimana dihukumi pula oleh syariat Islam dan aturan yang Islami. Kita telah mengetahui bahwa kehidupan Islam seperti ini telah berhenti sejak lama di seluruh permukaan bumi. Dan keberadaan Islam pun telah berhenti … .”

Tenang sebentar! Jangan tergesa-gesa menafsirkan dengan tafsiran pembelaan, karena Sayyid akan berkata lebih jelas lagi, yaitu : ” … kami menampakkan kenyataan yang terakhir ini walaupun akan menyebabkan munculnya benturan keras dan keputus asaan dari orang-orang yang masih tetap menginginkan untuk menjadi Muslimin.”

Lihat dia menyebut kaum Muslimin dengan ungkapan : Orang-orang yang ingin menjadi Muslimin”!

Ucapan yang hampir sama ia ucapkan pula dalam bukunya Al Adalah Al Ijtima’iyah, setelah dia membawakan ayat-ayat tentang hakimiyah : ”Ketika kita memperhatikan seluruh permukaan hari ini, di bawah cahaya ketetapan Ilahi terhadap pemahaman dien ini, kita tidak mendapatkan keberadaaan dien ini … sesungguhnya keberadaan dien ini telah lenyap sejak kelompok terakhir dari kaum Muslimin melepaskan pengesaan Allah dalam Hakimiyah dalam kehidupan manusia. Yang demikian adalah ketika mereka meninggalkan berhukum dengan syari’at Allah semata dalam segala aspek kehidupan. Kita harus mengakui kenyataan pahit ini dan harus menampakkanya. Janganlah kita khawatir munculnya “putus harapan” dalam hati-hati kebanyakan orang-orang yang suka untuk menjadi Muslimin. Mereka seharusnya meyakini bagaimana mereka dapat menjadi muslimin. Sesungguhnya musuh-musuh dien ini telah menjalankan usaha sejak beberapa abad dan masih tetap melaksanakan usaha-usaha maksimal yang menipu dan jahat untuk merampas kehendak kebanyakan orang yang ingin menjadi Muslimin?” (Al Adalah Al Ijtima’iyah hal. 183-184)

Di sini terlihat pemikiran-pemikiran Sayyid yang berbahaya di antaranya anggapan beliau bahwa :

Kehidupan Islam telah tiada
Bahkan wujud Islam telah berhenti
Anggapan bahwa kaum muslimin adalah orang-orang kafir jahiliyah yang menginginkan Islam
Inti Islam yang hakiki adalah tauhid hakimiyah
Dia mengharuskan dan menegaskan untuk mengumumkan pengkafiran umat Islam
Adakah pengkafiran yang lebih jelas daripada pengkafiran Sayyid Quthb ini?! Mana yang dinamakan pengkafiran kalau ucapan seperti ini tidak dinamakan pengkafiran? Perhatikanlah wahai orang-orang yang memiliki pandangan!

PERNYATAANNYA BAHWA DARI SEMUA MASYARAKAT MENJADI KAFIR TANPA KECUALI. [CARA DARI KHAWARIJ] DIAKUI OLEH TOKOH IKHWANUL MUSLIMIN (IM) SENDIRI
Dan ini diaukui oleh Yusuf Al-Qardaawi dalam bukunya – Prioritas Gerakan Islam (Awliyat hal.110) di mana ia menjelaskan bahwa buku-buku Sayyid Quthb muncul di mana Quthb melakukan takfir dari semua masyarakat dan di mana ia mengumumkan jihad merusak terhadap seluruh umat manusia.

Berkata Farid Abdul Khaliq, salah seorang tokoh besar IM dalam kitabnya Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Haq hal. 115: “Kita mengetahui dari apa yang telah lewat bahwa munculnya pemikiran takfir di kalangan Ikhwan bermula dari penjara Qanathir di akhir tahun lima puluhan dan awal enam puluhan. Mereka terpengaruh oleh Sayyid Quthb dan pemikiran-pemikirannya. Mereka mengambil pemahaman darinya bahwa masyarakat ini dalam keadaan jahiliyah dan bahwasanya dia telah mengkafirkan pemerintah yang merasa asing dengan apa yang diturunkan Allah. Juga mengkafirkan rakyatnya karena mereka ridla dengan hal itu”.

Berkata Ali Gharishah, salah seorang tokoh besar IM, sebagai berikut : “Dalam kejadian ini, terpecah satu kelompok dari kelompok Islam yang besar ketika keberadaan mereka di penjara-penjara … bersamaan dengan itu kelompok tersebut bertameng dengan pengkafiran kelompok Islam yang besar. Mereka masih tetap dalam pendapatnya tentang pengkafiran pemerintah, penolong-penolongnya serta masyarakat seluruhnya. Kemudian kelompok tersebut berpecah kembali menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing mengkafirkan yang lain … .” (Al Ittijahat Al Fikriyah Al Mu’ashirah hal. 279)

Ucapan-ucapan mereka ini menunjukkan bahwa pemikiran takfir Sayyid Quthb telah dikenal oleh kawan dan lawannya. Hanya saja ketika bantahan itu dari ‘kawan’ satu harakah, selalu diiringi dengan basa-basi atau penyamaran agar tidak terlihat seakan-akan permasalahan ini adalah permasalahan besar. Seperti Al Qardlawi setelah ucapannya di atas, dia berkata : ” … Dan buku-buku beliau tersebut memiliki keutamaan-keutamaan dan pengaruh-pengaruh positif yang besar di samping pengaruh-pengaruh negatif.” (Awliyat hal. 110)

Atau seperti ucapan Ali Gharishah yang tidak menyebutkan siapa atau buku apa atau jama’ah apa, dia hanya mengatakan ‘kelompok kecil’ dan ‘kelompok besar’.

Saudara-saudaraku kaum Muslimin, bisa jadi sikap basa-basi dan penyamaran yang menyebabkan terasa kecilnya bahaya-bahaya besar ini adalah karena mereka satu hizb. Mereka menjaga persatuan dan kesatuan hizbnya dengan prinsip mereka yang terkenal : ‘KITA SALING TOLONG MENOLONG ATAS APA YANG KITA SEPAKATI DAN SALING TOLERANSI ATAS APA YANG KITA BERBEDA’. Kalau begitu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah, Salafiyyah tetapi memiliki prinsip yang sama dengan mereka?

UMAT ISLAM TELAH MURTAD DAN ADZAB BAGI MEREKA LEBIH KERAS DARI PADA ORANG KAFIR LAINNYA

Sayyid Quthb berkata : ”Telah bergeser zaman, kembali seperti keadaan pada hari datangnya dien ini kepada manusia (yaitu masa jahiliyah). Telah murtad manusia menuju peribadatan kepada hamba-hamba dan menuju kerusakan agama-agama. Mereka telah berpaling dari Laa Ilaaha Illallah, walaupun sekelompok dari mereka masih tetap mengumandangkan di menara-menara adzan Laa Ilaaha Illallah tanpa memahami maksudnya, tanpa mengerti apa konsekwensinya, padahal dia mengulang-ulangnya. Juga tanpa menolak pensyariatan hakimiyah yang diaku oleh para hamba untuk diri-diri mereka. Hal ini sama dengan penuhanan (uluhiyah). Sama saja, apakah diaku oleh pribadi-pribadi atau kelompok pensyariatan ataupun oleh masyarakat…” (fi Zhilalil Qur’an 2/1057)

Bahkan lebih kejam lagi dia berkata : ”… yaitu kemanusiaan seluruhnya, termasuk di dalamnya mereka yang mengulang-ulang di menara-menara adzan di timur atau di barat bumi ini kalimat Laa Ilaaha Illallah tanpa maksud dan tanpa kenyataan. Mereka paling berat dosanya dan paling keras adzabnya karena mereka telah murtad kepada peribadatan para hamba setelah jelas baginya petunjuk dan karena mereka sebelumnya berada dalam dien Allah”. (Fi Zhilalil Qur’an 2/1057)

Lihatlah betapa beraninya Sayyid mengkafirkan kaum Muslimin dan menganggap mereka orang-orang murtad yang paling keras adzabnya. Padahal mereka masih mengumandangkan adzan dan masih shalat.

PENOLAKANNYA UNTUK SALAT-JUMU’AH DENGAN PEMBENARAN BAHWA TIDAK ADA KHILAAFAH PADA SAAT INI.

Ali Ashmaawy mengatakan dalam bukunya: “Sejarah Rahasia Ikhwaan ul-Muslimin” (at-Taarikh as-Sirri li-Jamaa’atil-Ikhwaan il-Muslimin): “Dan waktu untuk shalat Jumu’ah tiba jadi aku berkata kepadanya: “Marilah kita pergi dan sholat ‘dan itu kejutan bahwa Aku datang untuk tahu – dan untuk pertama kalinya – bahwa ia tidak melaksanakan untuk sholat Jumu’ah” (hal.112)

QUTHB MENYERU UNTUK MENGHAPUS BAGIAN DARI SYARI’AT! [ Audhubillaah! ]

QUTHB MEMBERONTAK TERHADAP PENGUASA [ ! Audhubillaah ] …

KLAIM QUTHB BAHWA ISLAM ADALAH CAMPURAN DARI KOMUNISME DAN KRISTEN! [ Audhubillaah! ]

PEMBICARAAN QUTHB KEPADA HURRIYATUL I’TIQAAD – BAHWA SESEORANG DAPAT PERCAYA PADA APAPUN AGAMA DIA INGINKAN [ Aoodhubillaah! ]
Berbicara dengan “Hurriyatul-I’tiqaad” [Kebebasan Kepercayaan] – yang berarti bahwa orang dapat dibiarkan pada agama yang mereka pada. [Jadi orang Kristen harus dibiarkan sebagai orang Kristen - Yahudi sebagai orang Yahudi dll ..] – Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya “Apa yang Anda katakan tentang orang yang berbicara dengan Hurriyatul-I’tiqaad ‘ Syaikh menjawab: “Orang yang memungkinkan Hurriyatul I’tiqaad – bahwa seseorang dapat percaya apapun yang dia inginkan adalah agama kafir yang …‘. CATATAN: TIDAK MENJADI takfir DIBUAT SINI – Karena meskipun seseorang mengucapkan sesuatu yang mengharuskan percaya, kondisi harus dipenuhi dan pencegahan hambatan [mawaani '] harus dihapus sebelum vonis percaya dapat dikeluarkan dan itu adalah untuk ulama sendiri ‘- TAPI INI ADALAH UNTUK MENUNJUKKAN SIFAT KEBODOHANNYA Quthb DARI MASALAH DASAR AGAMA. Syekh al-Albaany berkomentar tentang Quthb bahwa ia hanya seorang penulis (Adib), kurang dalam ilmu Islam.
“Bagi Islam tidak menginginkan kebebasan beribadah bagi pengikutnya saja, melainkan menegaskan hak ini untuk semua agama yang berbeda dan tugas kaum Muslim untuk melawan dan membela hak ini bagi semua orang dan [bahkan] memungkinkan mereka untuk bertempur di bawah bendera ini, bendera yang menjamin kebebasan beribadah bagi penganut semua agama lain … sehingga menyadari bahwa itu adalah tatanan dunia yang bebas …(Nahwa Mujtami ‘Islaamy hal.105)
Dan Islam tidak merasa gelisah tentang perbedaan umat manusia dalam aqidah dan manhaj,!!! melainkan menganggap ini sebagai sesuatu yang diharuskan oleh disposisi alam dan tujuan dari ahgher akan hidup di antara orang … (Nahwa Mujtami ‘Islamy hal.103) “
Dia berbicara tentang Al-Qur’an dengan pendapat pribadi belaka. Ada 181 kesalahan dalam hal aqidah dan masalah pengetahuan dalam bukunya Fi zilaal il-Quraan seperti yang ditunjukkan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad ad-Dawaish dalam bukunya, Al-Mawrid uz-Zilaal fit-Tanbih Akhtaa’a alaa az-Zilaal dan seperti kata pepatah: Al-Lamsu wal-Basar Khairun min as-Sam’i wal-khabr.

MASJID MENURUT SAYYID ADALAH TEMPAT PERIBADATAN JAHILIYAH

Bertolak dari pengkafiran dia terhadap masyarakat Islam, maka Sayyid menganggap masjid-masjid mereka sebagai tempat-tempat peribadatan jahiliyah. Dia berkata ketika menafsirkan ucapan Allah dalam surat Yunus 87 :

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya : ’Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sembahyang dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’ ” (Surat Yunus 87)

Dia berkata : ” … inilah pengalaman yang Allah tunjukkan kepada kelompok Mukmin agar menjadi teladan. Bukan khusus bagi Bani Israil. Tapi ini adalah pengalaman iman yang murni. Kadang-kadang orang-orang beriman mendapati diri-diri mereka terusir pada suatu hari dari masyarakat jahiliyah, ketika fitnah telah merata, thoghut telah bertambah sombong dan manusia telah rusak, serta lingkungan telah membusuk. Demikian pula keadaan di jaman Fir’aun pada masa ini. Di sini Allah mengarahkan kita pada beberapa perkara :

Memisahkan diri dari masyarakat jahiliyah, busuknya, rusaknya, dan kejelekannya sebisa mungkin. Dan mengumpulkan ‘kelompok mukmin’ yang baik dan bersih dirinya untuk mensucikan, membersihkan, dan melatih serta menyusun mereka hingga datang janji Allah untuk mereka.
Menghindari tempat-tempat peribadatan jahiliyah dan menjadikan rumah-rumah ‘kelompok Muslim’ sebagai masjid yang di sana mereka dapat merasakan keterpisahan mereka dari masyarakat jahiliyah. Kemudian di sana mereka melangsungkan peribadatan kepada Rabb mereka dengan cara yang benar. Dan melanjutkan dengan ibadah tersebut menuju semacam keteraturan (tandhim) dalam lingkungan suasana ibadahyang suci. (Fi Zhilalil Qur’an 3/1816) “
Apa yang akan terjadi kalau dakwah Sayyid seperti ini dibiarkan ? Jelas penafsiran yang bathil ini akan mengakibatkan ditinggalkannya masjid-masjid dan munculnya Neo Khawarij dengan gaya baru yang memisahkan diri dari masyarakat Islam dan mengkafirkan mereka. Kemudian siapa yang dimaksud ‘kelompok Mukmin’, ‘kelompok Muslim’ dalam masyarakat jahiliyah ini? Tentu pembaca dapat menebak dengan melihat aqidah dan pemikiran Sayyid yang telah dijelaskan. Ya tentunya yang dia maksud adalah dirinya dan orang-orang yang mengikuti pemikirannya.

OLOKAN QUTHB KEPADA PARA NABI! [Audhubillaah! ]

HARDIKNYA (CELAANNYA/KRITIKANNYA) DAN KECAMAN KEPADA NABIYULLAH, MUSA (ALAIHIS-SALAAM) DAN MEMBUATNYA MENJADI OBJEK CEMOOHAN [ Audhubillaah! ]

Sayyid Quthb mengatakan, pada at-Taswir al- Fanni fil-Qur’an: “Mari kita lihat Musa – dia adalah contoh yang berapi-api, pemimpin yang mudah dibangkitkan semangatnya [surah Qashash 28:15] dan di sini bersemangat nya, jiwa semangatnya tampak, seperti emosi dalam mendukung bangsanya ditunjukkan, tapi ini gerakan emosional yang cepat berlalu – dan ia tenang kembali – dan ini adalah apa yang terjadi dengan semangat kaumnya [Surah Qashash 28:15-17, 18] -. dan perubahan ini menunjukkan perwujudan yang terkenal, bahwa seseorang yang takut, tertekan dan mengharapkan kejahatan di setiap saat – dan ini juga tanda semangat (rakyat) Kemudian bersama ini dan bersama dengan kenyataan bahwa ia berjanji bahwa dia tidak akan membantu orang yang lalim -.. mari kita lihat apa yang dia lakukan [mengutip Qashash 28:18] Dia menginginkan untuk menyerang orang lain sama seperti ia lakukan pada hari sebelumnya, dan semangat dan emosi membuatnya melupakan pengampunan memiliki dicari nya, penyesalannya, ketakutan dan kewaspadaan yang tampak cemas … Jadi mari kita tinggalkan dia di sini, untuk bertemu lagi, dalam jangka waktu kedua hidupnya, sepuluh tahun lagi. Barangkali mungkin dia sudah mulai tenang dan menjadi seorang pria yang tenang secara alami dan lembut-hati memang Tidak sungguh-sungguh!sehingga dia, dipanggil dari sisi kanan gunung:.! bahwa ia harus membuang tongkatnya, sehingga dia melemparkannya ke bawah dan itu menjadi ular – bergerak cepat, ia hampir tidak melihatnya sebelum dia melompat dan berlari, tidak melihat ke belakang dan tidak di samping … dia adalah pemuda yang sangat tinggi … … “

SAYYID QUTHB MENCELA SAHABAT

Sayyid Qutb bukan Ahlussunnah… Dia mencela Sahabat Nabi… Sayyid Quthub mengatakan : “Sesungguhnya Mu’awiyah bersama temannya, yaitu Amr (bin ‘Ash), bisa mengalahkan Ali, bukan karena mereka lebih mengetahui tentang rahasia jiwa dan lebih berpengalaman dalam menentukan tindakan bermanfaat pada waktu yang tepat, akan tetapi keduanya sangat cepat dalam menggunakan semua senjata/cara. Adapun Ali terikat dengan budi pekertinya ketika memilih sarana untuk berselisih. Ketika Mua’wiyah dan temannya menggunakan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan suap serta money politik, maka Ali tdak sanggup untuk turun pada derajat serendah ini. Sehingga tidak perlu heran atas kesuksesan keduanya dan kegagalan Ali. Dan sungguh kegagalan (Ali) ini lebih mulia dari segala kesuksesan” (Kutub wa Syakhsiyyat hal. 242)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkomentar : “Ini perkataan yang jelek, ini perkataan yang jelek, celaan terhadap Mu’awiyah, celaan terhadap Amr bin Al-Ash”. Beliau juga berkomentar tentang buku-buku ini, dengan mengatakan :”Sudah sepantasnya, untuk dirobek-robek” Silahkan merujuk kepada kaset “Aqwalul Ulama Fi Muallafaat Sayyid Quthub” (komentar para ulama terhadap karangan-karangan Sayyid Quthub), terbitan tasjilat “Minhajus Sunnah” Swedi – Riyadh.

TEGURANNYA DAN KECAMAN DARI PARA SAHABAT RASULULLAH (SHALLALLAHU ALAYHI WASALLAM), TERUTAMA UTSMAN BIN ‘AFFAN (RADIALLAAHU ANHU). [CARA DARI RAFIDAH] [ Audhubillaah! ]

Dalam hal ini ia dikoreksi dan dibantah oleh Syaikh Mahmud Shaakir dalam hidupnya tetapi ia bersikeras dan tidak mengakui kesalahannya. Penolakannya di majalah ar-Risaalah vol 977 pada tahun 1952. Ini terjadi setelah Mahmud Shaakir menulis empat risalah menentangnya dari tiga judul yang ia miliki: hukmun bilaa Bayyinah, laa tasubbu ashaaby, al-alsinatu al-muftirin. Semuanya disebarkan di majalah al-Muslimun dimulai pada Muharram tahun 1372 hijriah. Dalam kebenciannya ia menulis ‘Al- Adaalat ul-Ijtimaa’iyyah ‘ buku yang diterbitkan sebelum kematiannya.

Ia mengatakan dalam buku tersebut misalnya:
Memang, itu adalah percobaan yang benar bahwa Ali bukanlah khalifah ketiga yang mendapat petunujuk dengan Benar ” (hal.191 edisi 5 & hal.162dan edisi 12.)
Dan kita cenderung berpendapat bahwa khilafah dari Ali adalah kelanjutan dari khilafah dari dua Syekh [yakni Abu Bakar dan Umar] dan bahwa era Utsman hanyalah celah di antaranya” (hal.206 edisi 5. )
Dan sangat disayangkan bahwa khilafah datang ke Utsman ketika ia sudah tua; tekadnya sudah melemah dan tidak mencapai tujuan yang dimaksudkan oleh Islam, dan tekadnya terlalu lemah untuk tabah menghadapi kubu Marwaan dan Umayyah di luar itu. ” (hal.186 edisi 5.)
“Para sahabat melihat penyimpangan ini dari semangat Islam, dan akan berhijrah ke al-Madinah untuk menyelamatkan Islam dan menyelamatkan Islam dari persidangan, dan khalifah – di usia tuanya, dan negara yang dibawa oleh usia lanjut – tidak memiliki kendali urusan kepada anggaran Marwaan. Bahkan dengan terang-terangan dia meragukan ruh Islam yang ada pada ‘Utsman, yaitu setelah Sayyid menyebutkan cerita-cerita tentang ‘Utsman yang membagi-bagikan harta pada keluarga dan kerabatnya (korupsi). Juga setelah menceritakan bahwa ‘Utsman mengangkat gubernur-gubernurnya dari keluarganya sendiri, seperti Mu’awiyah dan Al Hakam radliallahu ‘anhuma dan selainnya. Kemudian dia berkata : ” … Dan bahwasanya para shahabat mengetahui penyelewengan dalam ruh Islam ini. Khalifah dengan ketuaan dan kepikunannnya tidak dapat memegang urusannya dari Marwan. Sesungguhnya sangat susah meragukan ruh Islam di dalam hati ‘Utsman. Tetapi juga sangat sulit memaafkan kesalahan-kesalahannya yang merupakan kesalahan fatal mengenai wilayah dan khilafahnya, sungguh sayang terjadinya pengambilan khilafahnya sementara dia adalah pria tua yang lemah, yang dikelilingi oleh anggota istana yang jahat dari Bani Umayyah … ” (hal.189 edisi 5 dan makna adalah pada hal.161 dari edisi 12.)

Sebaliknya Sayyid Quthb justru memuji dan membela para pemberontak yang membunuh ‘Utsman. Dia berkata : ” … akhirnya, terjadilah pemberontakan atas’Utsman. Tercampur padanya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejelekan.Tetapi bagi yang memandang ini dengan ‘kaca mata Islam’ dan merasakan urusan ini dengan ‘ruh Islam’, pasti dia akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara keumuman lebih dekat kepada ‘ruh Islam’ dan arahannya daripada sikap ‘Utsman atau lebih tepatnya sikap Marwan dan orang-orang yang di belakangnya dari Bani Umayyah.” (Al Adalah hal.189 cet. ke-5 dan hal. 161, 162 cet. ke-12 dengan beberapa perubahan tetapi intinya sama, hanya pada cetakan terakhir ini dia menyebut bahwa hal itu karena pengaruh tipu daya Ibnu Saba’ dan dalam terjemahannya hal. 275)

Seharusnya dia mengucapkan : “Barangsiapa memandang dengan kacamata saya dan merasakan dengan ruh saya … .” Karena kesimpulan dan pandangan seperti itu sama sekali bukan dari Islam. Adapun pandangan Sayyid adalah pandangan Syi’ah, Khawarij dan Ahli Bid’ah!

Untuk bantahan ilmiah dan sangat baik Sayyid Quthb silakan merujuk pada buku-buku yang dikarang oleh Syaikh Rabi ‘bin Haadi al-Madkhaly, yang telah direkomendasikan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Bin Baz dan lain-lain.

1. Adwaa al-Islaamiyyah alaa Aqidati Sayyid Quthb
2. Mataa’in Sayyid Quthb fis-shahabat
3. Al-Awaasim mimmaa fi Kutub Sayyid Quthb minal-Qawaasim
4. Al-Hadd ul-Haqq Faasil bainal-wal-baatil

Setelah membaca ini harus menjadi jelas bagi orang yang bebas dari ta’assub dan hizbiyyah bahwa Sayyid Qutub paling pasti tidak mujaddid, sebagaimana seperti Ibnu Taimiyah seperti yang disebarkan oleh banyak bodoh.

Semoga Allah menyelamatkan kaum Muslimin dari penyelewengannya dan membuka mata kaum hizbiyyah agar melihat bahayanya serta menghilangkan sikap fanatik mereka padanya. Amin.

walhamdulillah…

Subhanak Allaahuma wa bihamdika ash-hadu anlaa illaaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilayk

————————————————-

[1] Lantas bagaimana dia menghukumi dirinya, dia mengikuti kebiasaan orang-orang kafir Barat dengan memotong habis jenggotnya dan memakai jas dan berdasi?

• Hulul – dalam arti bahasa “Memasuki” – berdiamnya Ilahi. Keyakinan bahwa Allah berdiam dalam manusia tertentu. yaitu Bahwa Allah diam di dalam seorang Syaikh Sufi tertentu, orang saleh, nabi -. Kepercayaan ini dianut oleh orang Kristen, Sufy tertentu, Syi’ah tertentu, Seekhs(???) dan lain-lain

• Wihdatul Wujud – dalam arti bahasa – Persatuan Keberadaan. Keyakinan bahwa semua eksistensi adalah eksistensi tunggal dan segala sesuatu yang kita lihat adalah aspek hanya esensi Allah. Keyakinan ini juga dipegang oleh Sufy tertentu, Hindu, agama-agama , dan lain-lain. Syaikh Muhammad bin Rabi ‘bin Haadi al-Madkhaly menjelaskan dua keyakinan dalam “Hakikat tasawuf – Dalam Cahaya dari Al Qur’an dan Sunnah:”

sumber :

http://www.sahihalbukhari.com/sps/sp.cfm?subsecID=NDV01&articleID=NDV010008&pfriend=&CFID=17136322&CFTOKEN=44428837

Tulisan al-Ustadz Muhammad Umar as Sewed, Majalah Salafy, Edisi XVI/Dzulhijjah/1417 H/1997 M http://darus-sunnah.blogspot.com/2008/06/waspadalah-dari-tokoh-takfiri-satu-ini.html

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: