Seputar Permasalahan Fidyah dan Qadha’ bagi yang mendapat rukshah tidak puasa di bulan Ramadhan


(download selengkapnya: Seputar Permasalahan Fidyah dan Qadha’)

Seputar dalam permasalahan tersebut di atas tentang Fidyah dan qodho’, adalah penafsiran dari surah Al Baqoroh ayat 183-184

١٨٣. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

١٨٤. أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, 184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[1], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


[1] Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

Penafsiran surah di atas terkhusus berkenaan dengan fidyah dan qodho’. Adapun permasalahan qodho’ di dalam ayat tersebut sudah dijelaskan siapa yang berhak untuknya yaitu orang yang sakit dan musafir. Hanya saja, terdapat pembicaraan mengenai orang yang dalam perjalanan (musafir) apakah afdholnya ia berbuka ataukah tidak. Akan tetapi, yang jelas dari ayat tersebut bahwasanya mereka telah diberikan keringanan untuk mengganti puasanya di hari lain. Pembahasan kali ini semakna dengan hal demikian, akan tetapi lebih kita fokuskan ke dalam permasalahan tentang apakah ia qodho’ ataukah membayar fidyah kepada orang miskin.

Siapa yang diperbolehkan membayar fidyah?

1. Orang yang sudah lanjut usia tidak mampu berpuasa.

Atsar shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ ( وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ). قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ، هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا.

Shahabat Ibnu ‘Abbas membaca ayat ‘Dan wajib atas orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak bershaum) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah : 184]; maka beliau berkata :

“Ayat tersebut tidaklah dihapus hukumnya, namun berlaku untuk pria lanjut usia atau wanita lanjut usia yang tidak mampu lagi untuk bershaum (pada bulan Ramadhan). Keduanya wajib membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan (ia tidak bershaum).                          [HR. Al-Bukhari 4505]

2. Sakit yang sulit diharapkan kesembuhannya

Seorang yang tidak mampu bershaum disebabkan sakit dengan jenis penyakit yang sulit diharapkan kesembuhannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan pula oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau juga berkata tentang ayat di atas :

لاَ يُرَخَّصُ فِي هَذَا إِلاَّ لِلَّذِي لاَ يُطِيْقُ الصِّيَامَ أَوْ مَرِيضٌ لاَ يُشْفَى

“Tidaklah diberi keringanan pada ayat ini (untuk membayar fidyah) kecuali untuk orang yang tidak mampu bershaum atau orang sakit yang sulit diharapkan kesembuhannya. [An-Nasa`i] [2])

3. Wanita hamil dan menyusui yang dikhawatirkan membahayakan

1. Atsar Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata :

الحَامِلُ وَالمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا عَلَى أَوْلاَدِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا [رواه أبو داود]

“Wanita hamil atau menyusui dalam keadaan keduanya takut terhadap anaknya boleh bagi keduanya berifthar ( tidak bershaum ) dan wajib bagi keduanya membayar fidyah. [HR Abu Dawud] [3])

2. Juga atsar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa beliau berkata :

إِذَا خَافَتِ الحَامِلُ عَلَى نَفْسِهَا وَالمُرْضِعُ عَلَى وَلَدِهَا فِي رَمَضَانَ، قَالَ : يُفْطِرَانِ وَيُطْعِمَانِ عَلَى كُلِّ يَوْمٍ مَسْكِيْنًا وَلاَ يَقْضِيَانِ صَوْمًا

(Ibnu Abbas ditanya), jika wanita hamil khawatir terhadap dirinya dan wanita menyusui khawatir terhadap anaknya berifthor di bulan Ramadhan) beliau berkata : keduanya boleh berifthor dan wajib keduanya membayar fidyah pada setiap harinya seorang miskin dan tidak ada qodho’ bagi keduanya. [Ath-Thabari] [4])

Juga masih dari shahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata kepada seorang wanita hamil atau menyusui :

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّذِيْ لاَ يُطِيْقُ، عَلَيْكِ أَنْ تُطْعِمِي مَكَانَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ

“Engkau posisinya seperti orang yang tidak mampu (bershaum). Wajib atasmu memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari (yang engkau tidak bershaum), dan tidak ada kewajiban qadha` atasmu.” [Ath-Thabari] [5])

Semakna dengan atsar di atas, juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma oleh Al-Imam Ad-Daraquthni (no. 250).

3. Di dalam Kitab Jami’Ahkamun nisaa’disebutkan

Atsar Ibnu ‘Abbas radhiyallohu ‘anha dari Abu Dawud –> Urwah –> Sa’id ibn Zubair –> Ibnu Abbas :

bahwasanya ayat yang berbunyi “…& orang-orang yang tidak mampu berpuasa hendaknya membayar fidyah.” beliau menafsirkan, itu adalah rukhsoh untuk orang yang sudah sangat tua yang tidak mampu untuk berpuasa, wajib memberi makan tiap hari pada orang miskin. Dan wanita hamil / menyusui juga jika keduanya khawatir.

Ibnu Abbas memerintahkan budak wanitanya yang hamil untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, sambil berkata, “kamu sama kedudukannya seperti orang yang sudah sangat tua yang tidak mampu puasa. Berbukalah, jangan puasa dan berilah makan tiap hari kepada orang miskin.”

Berkata Muallif (JAMI’ AHKAMUN NISAA’ -Syaikh Musthofa Al- Adawy) –> Adapun keterangan dari hadits pertama yang kita baca, maksudnya adalah Alloh memberi rukhsoh kepada wanita hamil & menyusui untuk tidak berpuasa ketika keduanya lemah untuk berpuasa, ketika keduanya sudah mampu untuk berpuasa, maka keduanya harus mengQadha puasa. Seperti pula rukhsoh itu diberikan kepada musafir ketika dalam safarnya. Tapi ketika dia sudah pulang dari safarnya, maka wajib bagi dia mengQadha’ puasanya.

Tidaklah keduanya diperintah untuk membayar fidyah tanpa mengQadha’, maka inilah dalil yang dipakai oleh mereka yang berpendapat wajib MengQadha’ puasa karena dalam hadits tsb jelas menyampaikan bahwa rukhsoh itu diberikan kepada musafir, wanita hamil & menyusui.

  • Telah berlalu bahwasanya pendapat mu’allif tidaklah tepat dengan adanya atsar lain yang telah menjelaskan “… tidak ada kewajiban qodho’ baginya”.

4. Atsar Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata :

الحَامِلُ وَالمُرْضِعُ تُفْطِرُ وَلاَ تَقْضِي

“Wanita hamil dan menyusui berifthar (boleh tidak bershaum pada bulan Ramadhan) dan tidak ada (kewajiban) untuk mengqadha` atasnya.”

Pendapat ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. [6])

Terjadi perbincangan di kalangan para ulama’ dalam masalah di atas, apakah wanita hamil dan menyusui apakah diharuskan qadha’ ataupun membayar fidyah saja ataupun qadha’ dan membayar fidyah. Mereka para ulama’ mempunyai beberapa hujjah (alasan). Namun, di sini bagi mereka yang berpendapat bahwa kondisi wanita hamil dan menyusui  disamakan dengan orang yang sakit ataupun musafir adalah tidak tepat dikarenakan kondisi demikian tidaklah sama dengan keduanya (sakit dan musafir). Sebagaimana nanti perincian yang akan kami sebutkan. Walloohu A’lam

(download selengkapnya : Seputar Permasalahan Fidyah dan Qadha’)


[2] HR. An-Nasa`i no. 2317. Diriwayatkan pula oleh Ad-Daraquthni (2404) dengan lafazh :

وَلاَ يُرَخَّصُ إِلاَّ لِلْكَبِيرِ الَّذِى لاَ يُطِيقُ الصَّوْمَ أَوْ مَرِيضٍ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُشْفَى.

“Tidaklah dizinkan (untuk membayar fidyah dalam ayat tersebut) kecuali untuk orang yang sudah lanjut usia dan tidak mampu bershaum atau seorang yang sakit dalam keadaan dia tahu bahwa penyakitnya sulit disembuhkan.”

Atsar tersebut dishahihkan oleh Asy-Syaikh dalam Al-Irwa` IV/17

[3] HR. Abu Dawud no. 2318. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Al-Irwa`no. 912.

[4] Tafsir Ath-Thabari no. 2758. atsar ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalamAl-Irwa` IV/19.

[5] Tafsir Ath-Thabari no. 2758. atsar ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalamAl-Irwa` IV/19.

[6] Lihat pembahasan lebih luas dalam kitab beliau Irwa`ul Ghalil jilid IV hal. 17 – 25.

– KESIMPULAN –

1. Yang menghukumi HANYA WAJIB MEMBAYAR FIDYAH, tidak mengQadha’ puasa, baik itu untuk kemaslahatan diri maupun anaknya, ataupun keduanya, ini adalah pendapat Ibnu Abbas, dalilnya, “…dan terhadap orang-orang yang tidak mampu berpuasa…” juga hadits, “Sesungguhnya Alloh meletakkan / memberi rukhsoh…” hadits ini shohih dari Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah.

2. Yang menghukumi QADHA’ saja tanpa fidyah, pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh ‘Utsaimin, beliau berkata, “Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat menurut saya, alasannya karena keduanya seperti halnya orang sakit dan musafir, maka wajib bagi keduanya untuk mengQadha’ saja seperti dalam ayat. Adapun yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan diamnya Ibnu Abbas (yakni dalam menjelaskan tentang Qadha’ berkaitan apabila wanita hamil & menyusui tsb MENGKHAWATIRKAN ANAKNYA), karena memang sudah jelas harus mengQadha’ puasa bagi wanita hamil & menyusui karena kehamilannya (mengkhawatirkan dirinya sendiri).”

Adapun hadits Anas bin Malik rhadiallohu ‘anhuma yang berbunyi “sesungguhnya Alloh meletakkan / memberi rukhsoh…”, maksudnya adalah wajibnya mereka mengganti puasa.

3. Wanita hamil dan menyusui jika dikhawatirkan membahayakan bagi dirinya sendiri, sehingga tidak mampu berpuasa maka dalam hal ini sama dengan kondisi orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya ataupun orang tua yang tidak mampu berpuasa maka dia diwajibkan untuk membayar fidyah, adapun jikalau ia beralasan sekedar untuk menjaga stamina mereka maka kondisinya sama dengan seorang musafir, lebih afdholiyahnya untuk qodho’.

Sedangkan, apabila dikhawatirkan terhadap janinnya/anaknya maka wajib baginya untuk membayar fidyah dikarenakan keduanya mendapat rukshoh bukan karena sakit ataupun seperti halnya seorang musafir. Apabila ia, mau berpuasa di hari lainnya maka tidaklah mengapa, fidyah telah mengugurkan kewajibannya insya’Allooh Ta’ala. Dan apabila membahayakan bagi dirinya sendiri maupun anaknya maka ia pula telah mendapat rukshoh untuk membayar fidyah sebagai penggantinya.

sumber :

www.assalafy.org

www.salafy.or.id

www.ummufulanah.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: