Membaca Al Qur’an seperti nyanyian


Disebutkan bahwa seseorang membaca Al Qur’aan dalam suara bernada (melodi) [1] dari jalan Al-A’mash. Dia berkata:

Seorang pria pernah dibacakan di depan Anas bin [Malik – semoga Allâh meridhoinya] dengan cara ini dan ia membenci hal itu.

Abu Bakr Al-Khallâl, Al-Amr bil-Ma’ruf wa Al-Nahi ‘Al Al-Munkar, hal 110.

Diceritakan bahwa Salim bin [ ‘Abdillah bin ‘Umar bin Al-Khattab] – semoga Allâh merahmatinya – diminta untuk mendengarkan seseorang imam.Ketika ia mendengar bacaan itu, ia kembali berseru:

Bernyanyi! Bernyanyi!

Ibn Al-Jawzi, Al-Qussâs wa Al-Mudhakkirîn artikel 183.

Hal ini diberitakan bahwa ada seorang imam dahulu di Al-Madinah. Suatu malam, ia menjadi sangat gembira (terbawa oleh perasaan/emosional). [2] Al-Qasim bin Muhammad membaca:

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ. ٤١

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ. ٤٢

dan sesungguhnya Al Quraan itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quraan) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. [Al-Quran, Fussilat: 41, 42]

Dan ia membencinya [perilaku pembaca].

Ibid. pasal 184.

Hal ini diberitakan bahwa Al-Fudayl bin ‘Ayyâd –Rahimahullah – pernah ditanya tentang membaca Qur’an dengan melodi,
[1]
beliau menjawab:

Ini adalah sesuatu yang mereka ambil dari nyanyian.

Ibid. pasal 182

ibn Dawud [‘Abdullah bin Dawud bin ‘Amir Al-Khuraybî] – Rahimahullah – pernah ditanya oleh Bishr bin Al-Hârith:

Jika saya melewati seseorang yang sedang membaca Al qur’aan, apakah seharusnya saya harus duduk dan mendengarkan? Dia bertanya, “Apakah ia menjadi sangat gembira [2] (karena bacaan emosional)-nya? “Bishr menjawab,” “Ya. Ibnu Dawud. berkata,” Dia telah menunjukkan bid’ah nya, jangan duduk bersamanya.

Ibid pasal 186.

Hanbal meriwayatkan :

Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad) dahulu membenci inovasi bacaan ini yang disebut Al-Alhân (merdu, zikr musik).

Ibid. pasal 187.

Disebutkan bahwa Imam Ahmad berkata:

“Ini inovasi bacaan yang disebut Al-Alhân, Aku membencinya. “Dia sangat ketat/keras terhadapnya. Dia berkata, “Aku percaya ia menyerupai bernyanyi, dan Al-Qur’aan harus dijaga dari hal itu.”

Ibid. pasal 188.

Ada banyak riwayat dari Imam Ahmad tentang ini, diantaranya:

Ketika ditanya tentang hal tersebut,  ia berkata:

Ini adalah suatu inovasi. Tapi [untuk membaca dengan suara indah adalah] bagus jika suaranya alami, seperti Abu Musa [al-Asy’ari – semoga Allâh meridhoinya].

Ketika ditanya tentang membaca Alhân di lain waktu, dia menjawab:

Tidak. [Hal ini diperbolehkan] kalau itu adalah suara alami, seperti suara Abu Musa. Sedang untuk belajar bagaimana untuk membaca seperti itu, maka tidak ada.

Beliau ditanya tentang bacaan dengan melodi dan harmoni, kemudian ia menjawab:

“Ini adalah suatu bid’ah” Dikatakan kepadanya, ‘Mereka berkumpul untuk mendengarkan.. “Dia berkata,” Allâhul-musta’ân (‘ Allâh-lah Yang Maha Mengetahui’; pernyataan kesedihan dan tidak menyetujuinya) “

Selain itu, ia berkata:

Ini adalah bid’ah, bukan untuk didengarkan.

‘Abdullah bin Yazid Al-‘Anbarî menceritakan:

Seorang pria pernah bertanya kepada imam Ahmad bin Hanbal:

“Apa yang Anda katakan tentang membaca dengan Alhân? “Abu Abdillah berkata,” siapa namamu? Orang itu “menjawab,”Muhammad. “Imam Ahmad berkata, “Jadi, kamu ingin dipanggil Muhammad? “

Al-Khallâl, op. cit., p99 +.

Imam Malik – Rahimahullah – berkata:

Aku tidak suka membaca (Al Qur’aan- penj) dalam melodi, baik dalam bulan Ramadan maupun pada waktu lain, karena menyerupai bernyanyi, dan hal itu menyebabkan Al –Qur’ aan untuk ditertawakan. Dikatakan ‘orang ini lebih baik membacanya daripada seseorang (Quran menjadi subjek persaingan dan hiburan).

Telah sampai kepadaku bahwa budak wanita diajarkan untuk melafalkan seperti ini karena mereka diajari cara menyanyi. Apakah Anda pikir ini adalah cara Rasulullooh shollolloohu ‘alayhi wasallam – digunakan untuk membaca?

Al-Qayrawânî, Kitab al-Jami ‘ hal 166.

[1] Bahasa Arab: Alhân. Hal ini mengacu pada membaca dalam sebuah lagu, seperti nada merdu. Lihat catatan.

[2] bahasa Arab: Al-tarb. Ini mengacu pada keadaan intensitas emosional yang dapat membawa tentang  ekspresi fisik. Lihat catatan.

Catatan

Setelah berhubungan beberapa tradisi, Ibn Al-Jawzi menyatakan:

Ketahuilah bahwa pembacaan musik merdu/ bermelodi (Al- Alhân) adalah dibenci untuk beberapa alasan, antara lain: [pembaca nya] menggabungkan huruf yang tidak seharusnya digabung, mereka memperpanjang vokal (madd) di mana seharusnya tidak ada perpanjangan, dan mereka menghilangkan hamzah dan penggandaan konsonan (tashdîd) hanya dalam rangka memelihara melodi.Selain itu, jenis bacaan ini menyebabkan orang untuk mendapatkan terbawa secara emosional (al-tarb) dan mengalihkan perhatian orang dari merenungkan Al Qur’aan. [3]

Menjelaskan jenis bacaan yang terpuji dan jenis yang menjijikkan, Ibnu Katsir menyatakan:

Apa yang dicari dalam syari’at (ajaran Islam) adalah jenis keindahan suara yang mengarah ke merenungkan Qur’aan dan berusaha memahaminya, penyerahan, kerendahan hati dan kepatuhan dengan [ketaatan Allah].

Seperti untuk menggunakan suara dengan melodi baru, dirubah susunannya, irama menghibur dan aturan musik, maka Qur’ an dijauhkan dari ini dan juga dihormati, dimuliakan untuk dapat diambil kedekatan dari apa yang disampaikan.[4]

[3] Ibn Al-Jawzi, Al-Qussâs wa al-Mudhakkirîn hal 335.

[4] Ibnu Katsir, Fad`â il Al-Quran hal 198.

klik sumber

<< artikel sejenis >>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: