Larangan Menjadikan Bacaan Al Qur’aan Sebagai Mata Pencaharian


Tajuk fatwa : Larangan Menjadikan Bacaan Al Qur’an Sebagai Mata Pencaharian
Nomor fatwa : 85
Tgl penambahan : Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa : Fatwa Komite Tetap Lembaga Kajian Ilmiah dan Fatwa
Sumber fatwa : (Pertanyaan nomor: 1, Fatwa nomor: 1268, jilid 4, halaman 92)
Soal:

Di tempat kami, Maroko, para qari’ Al Qur’an tampaknya membacanya sebagai suatu pekerjaan. Setiap kali ada acara pernikahan, mereka segera datang dan membacanya tanpa ketelitian dan kehati-hatian dalam pengucapan lafalnya dan juga tanpa ada penghormatan terdapat bacaannya, karena mereka membacanya tanpa tajwid.

Dan ketika qari’ membaca, para qari’ lain terlihat saling berbisik di telinga kawannya. Mereka membicarakan hal-hal di luar bacaan Al Qur’an itu. Ada sebagian bacaan yang mereka pakai, yang kami namakan tekhzanat yang artinya melenggak-lenggokkan lafal sehingga menimbulkan kepeningan, hampir-hampir telinga tidak kuat mendengarkannya. Hal itu dilakukan ketika mereka akan berhenti pada suatu penggalan atau yang sejenisnya.

Di antara yang tampak dari mereka juga, bahwa mereka sebenarnya telah hafal Al Qur’an, tetapi sayangnya mereka tidak memahaminya, tidak memberi petunjuk kepada Anda, dan juga tidak memberikan satu dalil pun untuk dakwah. Mereka hanya cukup menghafalnya saja.

Pada saat mereka datang ke acara pernikahan ini, pertama kali yang tampak dari mereka adalah meminta upah dan mengumpulkan sedekah dari orang-orang agar orang-orang itu mengambil berkah dari mereka. Kemudian para qari’ itu mendoakan mereka, bapak-bapak mereka yang telah meninggal, dan mendoakan orang yang bersedekah kepada mereka agar mereka sukses, mendapatkan pertolongan, dan lain sebagainya. Setelah mereka mengumpulkan sedekah itu, kemudian membagi-bagikannya di antara mereka sendiri, dan tidak ada seorang fakir miskin pun yang menerima bagian dari sedekah itu.

Apakah hukum syariat Islam dalam hal sedekah yang mereka kumpulkan kemudian mereka bagikan di antara mereka itu? Dan saya telah menemukan hadis dalam satu kitab, dari Nabi Muhammad shollolloohu ‘alayhi wasallam., beliau bersabda: Barang siapa yang memakai Al Qur’an untuk mengais rezeki, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan wajah tulang, artinya: wajah yang tidak berdaging. Apakah hadis ini sahih atau tidak?

Dan apakah makna dari ayat: (Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku)?  [Shaad:86]

Jawab :

Segala puji hanyalah bagi Allooh . Shalawat dan salam ditujukan kepada Rasul-Nya, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Pertama: Pembacaan Al Qur’an adalah murni ibadah dan salah satu cara pendekatan hamba kepada Tuhannya. Hukum asal pembacaan Al Qur’an dan ibadah-ibadah murni yang sejenisnya adalah hendaknya seorang Muslim melakukannya dengan tujuan untuk mendapatkan keridaan Allooh dan memohon pahala dari sisi-Nya, sehingga makhluk tidak mengharapkan darinya satu imbalan atau ucapan terima kasih.

Maka dari itu para salaf tidak mengenal adanya menyewa orang untuk membaca Al Qur’an dalam pesta atau acara pernikahan, dan tidak pernah diriwayatkan dari seorang imam pun bahwa dia telah menyuruh atau memberi keringanan untuk melakukan hal itu. Dantidak pernah diketahui pula dari salah satu imam itu bahwa dia pernah mengambil upah dari membaca Al Qur’an, baik di pesta atau upacara-upacara lain, tetapi mereka membaca Al Qur’an dengan mengharapkan apa yang ada di sisi Allooh subhaanahu wa ta’ala.

Nabi Muhammad shollolloohu ‘alayhi wasallam telah menyuruh orang yang membaca Al Qur’aan untuk memohon kepada Allooh dengan bacaannya itu, dan memperingatkan untuk tidak meminta kepada manusia. Tirmdzi meriwayatkan dalam Sunannya dari Imran bin Hushain bahwa dia berjalan melewati seorang sedang membaca. Kemudian dia bertanya, maka dia mengingat dan berkata: Aku mendengar Rasulullah shollolloohu ‘alayhi wasallam. bersabda: Barang siapa yang membaca Al Qur’an, maka hendaklah dia memohon kepada Allooh dengan Al Qur’an itu, karena suatu saat akan datang kaum-kaum yang membaca Al Qur’an, dan mereka meminta kepada manusia dengan Al Qur’an itu1

Sedangkan mengambil upah dari mengajarnya atau menjadikannya jampi (obat-red) dan sejenisnya yang mana manfaatnya dirasakan oleh selain orang yang membaca, hadis-hadis yang sahih telah menyatakan kebolehannya. Seperti hadis Abu Sa’id bahwa dia mengambil segerombolan domba sebagai upah atas penyembuhan seseorang yang dilakukannya dengan surat Al-Fatihah sebagai jampinya2.

Dan juga hadis Sahl dalam bab Nabi menikahkan seorang wanita dengan lelaki dengan mahar ajaran Al Qur’an kepada istrinya3

Barang siapa yang mengambil upah dari bacaan Al Qur’aannya atau menyewa orang untuk membaca Al Qur’aan, maka dia telah melanggar dari apa yang telah disepakati oleh para salaf radhialloohu ‘anhuma.

Kedua: Al Qur’an adalah firman Allooh subhaanahu wa Ta’ ala. Keutamaannya dari perkataan makhluk adalah seperti keutamaan Allooh dari hamba-hambanya. Al Qur’an adalah zikir yang paling baik dan paling utama. Maka pembacanya harus beradab dalam membaca, khusyuk, mengikhlaskan hatinya untuk Allooh, teliti dalam bacaannya, merenungi makna-maknanya sesuai dengan kemampuannya, tidak sibuk dengan yang lain, tidak terbebani dan tidak membaca dengan suara gurau, serta tidak mengangkat suaranya di luar kebutuhan.

Orang yang hadir dalam suatu perkumpulan yang mana di dalamnya terdapat pembacaan Al Qur’an harus mendengarkan bacaan itu dan merenungkan makna-maknanya. Tidak bermain-main dan tidak pula sibuk berbicara dengan orang lain serta tidak mengganggu qari’ atau para hadirin. Allooh Subhaanahu Wa Ta’ ala. berfirman: (Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan)  [Al Muzzammil:4] Dan berfirman pula: (Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai)  [Al A’raaf:205]

Ketiga: Manusia sangat berbeda-beda dalam pemahaman dan pemikiran mereka. Setiap orang dibebani untuk mengetahui agama dan hukum-hukum syariat sesuai dengan pemahaman dan waktu yang diberikan oleh Allooh, agar dia melakukannya dan memberi petunjuk kepada orang lain untuk melakukannya. Di antara yang pertama kali harus dia pahami dan berikan perhatiannya kepadanya serta persiapkan hatinya adalah Kitab Allooh Subhaanahu Wa Ta’ ala. Apabila mereka tidak mampu memahaminya sendiri, maka harus meminta pertolongan kepada Allooh, kemudian kepada para ulama sesuai dengan kemampuannya, kemudian apabila hal itu telah dilakukannya semua, maka dia sudah terbebas dari beban. Sesungguhnya Allooh tidak membebani jiwa, kecuali sesuai dengan kemampuannya. Ketidakmampuan untuk memahami Al Qur’an tidak menghalangi manusia untuk membaca Al Qur’an setelah dia berusaha semampunya, dan hal itu bukanlah sesuatu yang tercela, berdasarkan kepada hadits Rasulullah shollolloohu ‘alayhi wasallam. beliau bersabda: Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama para rasul yang mulia dan taat. Adapun orang yang membaca Al Qur’an dengan tersendat-sendat karena sulit baginya membaca Al Qur’an, maka ia mendapat dua pahala4

Keempat: Orang yang fakir dibolehkan untuk mengambil sedekah guna menutupi kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ada dalam asuhannya. Disunahkan baginya untuk mendoakan orang yang bersedekah kepadanya dengan doa yang baik. Sedangkan mengambil harta sebagai upah dari bacaan Al Qur’annya atau karena dia telah memberikan nasihat dan memperingatkan orang lain, serta memberikan harta kepada orang untuk mengharapkan berkahnya, atau mengumpulkan orang untuk memohon berkah mereka dan meminta doa mereka maka hal ini semua adalah DILARANG, dan bukan termasuk dalam petunjuk yang diterima kaum Muslimin pada tiga abad pertama, yang disaksikan oleh Rasulullah sebagai abad-abad terbaik.

Kelima: Makna firman Allooh: (Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu atas dakwahku)  [Shaad:86] adalah bahwa Allooh Subhaanahu Wa Ta’ ala. memerintahkan Rasul-Nya Muhammad shollolloohu ‘alayhi wasallam. untuk memberitahukan kepada kaumnya bahwa dia tidak meminta upah dari mereka atas penyampaian apa-apa yang diturunkan dari Tuhannya kepadanya dan juga atas dakwahnya kepada mereka menuju ketauhidan yang murni dan penyampaiannya hukum-hukum Islam. Dia menyampaikan dan menjelaskan kepada mereka untuk melaksanakan perintah Allooh dan sebagai wujud ketaatannya kepada Allooh untuk memperoleh keridaannya semata dan untuk mengharapkan pahala dan ganjaran yang mulia dari-Nya. Itu semua adalah untuk menghilangkan prasangka-prasangka bohong yang mungkin ada pada diri orang-orang musyrik yang menyatakan bahwa Rasulullah shollolloohu ‘alayhi wasallam. berdakwah kepada mereka untuk mengikutinya kepada apa yang disyariatkan Allooh dengan tujuan untuk mendapatkan upah darinya atau untuk mendapatkan kekuasaan di kalangan kaumnya. Maka dari itu, dia menjelaskan kepada mereka bahwa dakwahnya kepada kebenaran yang ditujukan untuk mereka adalah semata-mata untuk Allooh Subhaanahu Wa Ta’ ala.

Demikian pula semua rasul-rasul alayhimassalam., mereka tidak meminta upah kepada manusia atas dakwah yang mereka lakukan. Dan telah dijelaskan pada bagian pertama dari jawaban ini, yaitu hadis Imran bin Hushain tentang peringatan untuk mengambil dan meminta imbalan dari orang lain dengan bacaan Al Qur’an.

Adapun mengenai apa yang Anda tanyakan tentang hukumannya pada hari kiamat denganrontoknya daging wajahnya, itu adalah merupakan ancaman bagi siapa yang minta-minta kepada orang lain, sedangkan dia tidak memiliki kebutuhan yang memaksanya untuk meminta atau alasan yang membolehkannya untuk meminta pada orang lain, baik dengan bacaan Al Qur’an atau pun tidak. Dari Abdullah bin Umar radhialloohu ‘ anhu. berkata: Rasulullah shollolloohu ‘alayhi wasallam. bersabda: (Masih saja seorang di antara kalian meminta-minta sampai ia menghadap Allooh, dengan wajah tidak berdaging (karena hinanya)5. Dan dalam riwayat lain darinya: Seorang laki-laki masih meminta pada manusia sampai datangnya hari kiamat dan tidak ada daging di wajahnya(Disepakati oleh Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhialloohu ‘anhu. bahwa Rasulullah shollolloohu ‘alayhi wasallam. bersabda Barang siapa yang meminta kepada orang lain harta mereka untuk menambah hartanya, sesungguhnya dia meminta bara, maka hendaknya dia mengurangi atau memperbanyak6

Barang siapa yang meminta orang lain dengan Al Qur’an dan dia dalam keadaan miskin, maka telah diterangkan dalam hadis pada alinea pertama, sedangkan apabila dia kaya, maka sebenarnya hadis-hadis ini adalah benar.

Sedangkan lafal hadis yang Anda sebutkan dalam pertanyaan, kami tidak mengetahui kebenarannya dengan lafal seperti itu.

Taufik hanyalah dari Allooh. Shalawat serta salam ditujukan kepada Nabi kita Muhammad shollolloohu ‘alayhi wasallam, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Komite Tetap Kajian Ilmiah dan Fatwa, Arab Saudi Anggota: Abdullah bin Qu’ud
Anggota: Abdullah bin Ghadyan
Wakil Ketua: Abdul Razzaq Afifi
Ketua: Abdul Aziz bin Baz

catatan kaki :

  1. Tirmidzi dalam bab keutamaan al qur’aan (2917)
  2. Al-Bukhori dalam bab sewa (2276) dan Muslim bab Al-Salam (2201)
  3. Bukhori dalam bab keutamaan Al Qur’aan (5029)
  4. Al-Bukhori dalam bab Al-Tafsir (4937), dan Muslim dalam bab sholat orang-orang bepergian (798) dan redaksi muslim
  5. Bukhori dalam bab zakat (1474), Muslim dalam bab zakat (1040)
  6. Muslim dalam bab zakat (1041)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: