NASEHAT ASY-SYAIKH AL-ALLAMAH AHMAD AN-NAJMY Rahimahulloh TERHADAP ASY-SYAIKH AL-ABBAD Hafidzahulloh TENTANG KITAB “RIFQAN AHLAS SUNNAH BI AHLIS SUNNAH”


NASEHAT ASY-SYAIKH AL-ALLAMAH AHMAD AN-NAJMY    رحمه الله TERHADAP ASY-SYAIKH AL-ABBAD حفظه الله TENTANG KITAB “RIFQAN AHLAS SUNNAH BI AHLIS SUNNAH”

بسم الله الر حمن الر حيم

Kepada: Asy-Syaikh Al-Fadhil Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hammad Al-Abbad Al-Badr yang mulia

السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته

Wa ba’du: Saudaraku; saya telah mendapat telepon darimu pada malam Kamis bertepatan 10 Jumadil Ula 1424 H, ketika itu engkau menegur saya dan engkau mengatakan bahwa engkau mendapatkan percakapan yang menceritakan percakapan yang lain, dan bahwasanya saya telah mengatakan kepada penanya bahwa; tidak ada yang menyebarkan kitab yang merupakan karyamu, yaitu “Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah” kecuali seorang mubtadi’.

Saya katakan: Ilah-mu (Allah) mengetahui bahwa saya tidak memvonismu sebagai mubtadi’ dan saya juga tidak bermaksud memvonismu sebagai mubtadi’, karena sungguh saya menganggapmu termasuk Ahlus Sunnah yang berjihad dalam menyebarkan As-Sunnah. Tetapi saya menganggap usahamu menulis kitab ini menyakiti Ahlus Sunnah yang engkau masih senantiasa menyebarkan As-Sunnah dan mengajarkannya kepada manusia sejak dahulu, walaupun saya yakin pasti engkau tidak bermaksud untuk bersikap buruk kepada As-Sunnah. Tetapi anggapanmu -menurut saya- yaitu ingin mendamaikan dua pihak: yaitu pihak yang terlalu semangat yang dengan semangatnya keluar dari sikap pertengahan dan pihak yang bersikap pertengahan, dan Allah yang lebih mengetahui. Hanya saja engkau telah berbuat buruk dengan tulisanmu berupa kitab ini yang nampak ingin menggembosi Salafiyyun agar tidak mencela ahlul bid’ah dan tidak mengkritik mereka.

Kedua: Nampak dari tulisanmu sikap menyalahkan Salafiyyun, mencela dan menghina mereka karena celaan mereka kepada ahlul bid’ah.

Ketiga: Celaan terhadap ahlul bid’ah yang merupakan qurbah (ibadah untuk mendekatkan diri) kepada Allah bahkan termasuk qurbah yang terbesar, engkau anggap salah satu kesalahan yang paling besar. Padahal Al-Imam Ahmad رحمه الله  pernah ditanya: “Seseorang mengerjakan shalat, berpuasa serta membaca Al-Qur’an lebih baik mana dibandingkan dengan orang yang menjelaskan kesesatan ahlul bid’ah?” Maka beliau menjawab: “Seseorang yang mengerjakan shalat, berpuasa serta membaca Al-Qur’an maka manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan orang yang menjelaskan kesesatan ahlul bid’ah manfaatnya untuk manusia karena mengingatkan mereka dari kesesatan ahlul bid’ah.”

Keempat: Ahlul bid’ah telah memanfaatkan sikapmu ini sehingga mereka menjadikan dirimu sebagai pembela mereka. Mereka pun mencopy kitabmu hingga ratusan bahkan ribuan dan membagi-bagikannya seperti yang beritanya sampai kepada kami. Maka lihatlah; siapakah yang engkau beri manfaat dan di barisan mana engkau berdiri dengan kitab ini?

Kelima: Dengan kitabmu itu engkau telah mengganti sesuatu yang paling baik dengan sesuatu yang paling buruk -engkau lebih mengetahui- yaitu; seharusnya engkau menolong Salafiyyun dan membela mereka, namun engkau justru menolong para mubtadi’ dan membela mereka, engkau merasa atau tidak, yang jelas hal itu telah terjadi. Maka lihatlah; siapa yang bergembira dengan kitabmu dan siapa yang merasa sedih?! Tidak diragukan lagi hizbiyyun-lah yang merasa senang dengannya dan membuat Salafiyyun bersedih. Oleh karena itulah Salafiyyun berdoa untukmu semoga Allah mengembalikanmu kepada kebenaran dengan cara yang baik, dan mereka memohon kepada-Nya agar menjadikanmu termasuk pembela As-Sunnah sebagaimana Dia telah menjadikanmu termasuk orang-orang yang menyebarkannya.

Keenam: Saya telah membaca kitabmu tentang takhrij hadits:

“Semoga Allah memuliakan siapa saja yang mendengar ucapanku lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang yang belum pernah mendengarnya.” Ini sejak lebih dari 30 tahun yang lalu sehingga saya memuliakanmu dan bertambah kecintaanku kepadamu. Dan saya masih mendengar bahwa engkau mengajarkan hadits ini dan saya mendengar sebagian halaqah (majelis ilmu) di radio belum lama ini. Saya juga mendengar engkau mulai membahas biografi para perawi hadits sehingga saya pun ingin melakukan seperti yang engkau lakukan dan saya berharap agar Allah memberi taufik saya agar bisa menghafal para perawi hadits seperti yang engkau lakukan.

Ketujuh: dengan kitab ini engkau telah merendahkan dirimu ketika engkau menganggap bahwa membicarakan aib para mubtadi’ merupakan ghibah. Padahal engkau mengetahui bahwa ghibah adalah celaan murni yang tidak dimaksudkan untuk membela agama. Adapun yang dimaksudkan untuk membela agama maka hal itu bukan merupakan ghibah. Padahal engkau sendiri mau tidak mau harus mengatakan: “Si fulan Murji’ah atau tertuduh memiliki keyakinan Murji’ah, fulan memiliki keyakinan Khawarij, fulan memiliki keyakinan Qadariyah atau tertuduh memiliki keyakinan Qadariyah …” dan seterusnya. Jika engkau mengatakan, “Ini merupakan ghibah dan ghibah haram hukumnya.” Maka, haram atas engkau menghibahi manusia dan memakan daging-daging mereka.” Namun jika engkau mengatakan, “Ghibah boleh dilakukan jika tujuannya membela agama.” Maka, kami katakan: Kalau demikian kita boleh mengatakan: “Si fulan mubtadi’.” Dengan syarat bertujuan memperingatkan darinya dan agar bid’ahnya tidak menyebar.” Kami sependapat denganmu bahwa barangsiapa tidak diketahui melakukan bid’ah maka tidak boleh mencelanya. Jika dia melakukan bid’ah dan telah dinasehati namun dia tidak mau menerima nasehat, maka dia diboikot dan ditinggalkan.

Kedelapan: dalil-dalil yang menunjukkan kebolehan ghibah jika bertujuan mentahdzir banyak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan disepakati oleh Salaful Ummah dari kalangan Shahabat dan Tabi’in serta para ulama yang berpegang teguh dengan atsar setelah mereka.

Di antara dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah

“Wahai orang-orang yang beriman, berjihadlah kalian terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik serta bersikap keraslah terhadap mereka, tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah tempat kembali yang paling buruk.” (QS. At-Taubah: 73)

 Ini mencakup orang-orang munafik Adapun dalil dari As-Sunnah adalah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary no. (6032) dari Aisyah رض الله عنها dia berkata: “Ada seorang laki-laki yang meminta ijin untuk menemui Nabi  , ketika melihat orang itu, beliau mengatakan:

“Bi’sa ‘akhu al ‘asyiirati”

“Dia adalah teman bergaul yang paling buruk.” Ketika orang itu duduk, beliau menampakkan wajah yang ceria dan tersenyum. Ketika orang itu telah pergi maka Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, ketika melihat orang itu anda berkata seperti ini dan ini, namun setelah itu anda menampakkan wajah yang ceria dan tersenyum kepadanya.” Maka Rasulullah صلّى عليه وسلَّم menjawab:

“Wahai A`isyah, kapankah engkau melihatku mengatakan perkataan keji? Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut keburukannya.” Demikian juga hadits Fathimah bintu Qais yang menjelaskan bahwa Abu Amr bin Hafsh mencerainya dengan talak bain ketika dia pergi, maka dia mengutus wakilnya kepada Fathimah untuk mengantarkan gandum (untuk nafkah), namun Fathimah marah. Maka wakilnya mengatakan: “Demi Allah, engkau sebenarnya sama sekali tidak memiliki hak atas kami.” Maka Fathimah mendatangi Rasulullah صلّى عليه وسلَّم lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau. Maka beliau menjelaskan: “Engkau tidak memiliki hak nafkah atasnya.” Lalu beliau memerintahkannya untuk menghabiskan masa iddah di rumah Ummu Syarik. Kemudian beliau berkata: “Dia (Ummu Syarik) adalah wanita yang para shahabatku sering mengunjunginya, maka habiskanlah masa iddahmu di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena dia seorang buta sehingga engkau bisa dengan aman meletakkan pakaianmu, lalu kalau engkau sudah selesai masa iddahmu maka beritahukanlah kepadaku.”

Fathimah berkata: “Ketika masa iddahku telah selesai maka saya menceritakan kepada beliau bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm telah melamar saya.”

Maka Rasulullah صلّى عليه وسلَّم bersabda: “Adapun Abu Jahm maka dia seorang yang jarang meletakkan tongkatnya dari pundaknya (suka memukul), sedangkan Muawiyah adalah seorang yang miskin tidak punya harta, menikahlah saja dengan Usamah bin Zaid!” Fathimah berkata: “Saya tidak menyukainya, namun beliau tetap berkata: “Menikahlah dengan Usamah.” Akhirnya saya pun menikah dengan Usamah, lalu Allah menjadikan kebaikan pada pernikahanku sehingga banyak yang iri denganku.”

Juga yang semisal dengannya adalah hadits Aisyah yang menceritakan: “Hindun bintu Utbah istri Abu Sufyan datang menemui Rasulullah صلّى عليه وسلَّم lalu mengatakan: “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang pelit, dia tidak memberiku nafkah yang cukup buat saya dan anak-anak saya, kecuali yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya, maka apakah hal itu merupakan dosa atas saya?” Maka Rasulullah صلّى عليه وسلَّم menjawab: “Ambillah sebagian hartanya dengan cara yang baik yang mencukupi buat dirimu dan anak-anakmu!”

Juga hadits Abdullah bin Mughaffal  ketika dia melihat seseorang mengetapel, dia berkata: “Jangan mengetapel, karena sesungguhnya Rasulullah صلّى عليه وسلَّم melarang ketapel atau beliau membenci ketapel dan beliau bersabda: “Sesungguhnya ketapel tidak bisa untuk mendapatkan buruan, tidak bisa untuk membunuh musuh, tetapi hanya bisa memcahkan gigi dan mencongkel mata!” Namun setelah itu Abdullah masih melihat orang itu tetap mengetapel, maka dia berkata kepadanya:

“Saya sampaikan kepadamu sebuah hadits dari Rasulullah صلّى عليه وسلَّم bahwa beliau melarang ketapel atau beliau membenci ketapel, tetapi engkau tetap saja mengetapel, maka saya tidak akan berbicara denganmu sekian lama.” Yang semisal dengannya juga ada dari riwayat Abu Bakrah . Adapun yang datang dari Salaf maka itu sangat banyak. Diantaranya yang diceritakan dari Syu’bah bin Al-Hajjaj bahwa beliau berkata: “Mari kita menggibah karena Allah .” Demikian juga yang diceritakan dari Ashim Al-Ahwal , beliau berkata: “Dahulu Qatadah mencela Amr bin Ubaid, maka saya duduk bersimpuh lalu saya katakan, “Wahai Abul Khaththab, apakah para ahli fikih sebagian mereka ada yang mencela sebagian yang lain?” Maka dia menjawab: “Wahai Ahwal, seseorang yang melakukan kebid’ahan lalu disebutkan keadaannya, itu lebih baik dibandingkan mendiamkannya.”

Al-Hasan bin Ar-Rabi’ berkata: “Ibnul Mubarak berkata: “Al-Ma’la bin Hilal dia begini dan begitu, hanya saja dia suka mendustakan hadits.” Maka sebagian orang-orang Shufi berkata: “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda melakukan ghibah?” Beliau menjawab: “Diamlah engkau, Jika kita tidak menjelaskan, bagaimana kebenaran bisa dibedakan dari kebatilan?!” Abdullah bin Ahmad berkata: “Saya berkata kepada ayahku: “Apa pendapat Anda tentang para ahli hadits yang datang kepada seorang syaikh yang dicurigai sebagai seorang Murji’ah atau Syi’ah atau memiliki sikap menyelisihi As-Sunnah, apakah saya boleh diam atau harus memperingatkan mereka darinya?” Maka ayahku menjawab: “Jika dia mengajak manusia kepada bid’ahnya dan merupakan imam yang mendakwahkannya, maka engkau harus memperingatkan manusia darinya.” Al-Hasan Al-Bashry rahimahullah berkata: “Ghibah tidak berlaku terhadap ahli bid’ah.” Affan berkata: “Kami pernah duduk di sisi Ismail bin Ulayyah, lalu ada seseorang meriwayatkan sebuah hadits dari orang lain, maka saya mengatakan: “Orang ini tidak kokoh hafalannya.” Orang itu berkata: “Engkau telah menghibahnya.” Maka Ismail berkata: “Dia tidak menghibahnya, tetapi dia hanya menjelaskan bahwa keadaan orang itu tidak kokoh hafalannya.” Ibnu Taimiyah berkata sebagaimana disebutkan dalam Majmu’ Al-Fatawa (28/217): “Adapun jika seseorang menampakkan kemungkaran, maka wajib untuk mengingkarinya secara terang-terangan dan ghibah tidak berlaku terhadapnya sama sekali, dan wajib menghukumnya terang-terangan dengan hal-hal yang bisa menghentikannya dengan cara memboikotnya dan cara yang lainnya.”

Ibnul Jauzy berkata dalam kitab Manaqib Al-Imam Ahmad bin Hanbal hal. 185: “Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal karena kekokohan beliau dalam berpegang teguh terhadap As-Sunnah dan melarang dari bid’ah, beliau pernah mengkritik beberapa orang yang mulia jika muncul dari mereka sesuatu yang menyelisihi As-Sunnah, dan perkataan beliau itu dipahami sebagai nasehat bagi agama.” Kesimpulannya: riwayat-riwayat dari Salaf sangat banyak, jawaban yang ringkas ini tidak memadai untuk memaparkannya. Dan di sana juga terdapat riwayat-riwayat dari mereka yang menyerukan untuk mengingkari siapa saja yang muncul darinya sesuatu yang menyelisihi syariat-syariat yang nampak, hal-hal yang bisa mengandung kemungkinan yang benar dan yang batil, serta tercampur aduknya antara As-Sunnah dan bid’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitabnya Dar’u Ta’arudhil Aql wan Naql (1/254): “Jalan yang ditempuh para salaf dan para imam yaitu mereka memperhatikan makna-makna yang benar yang diketahui dengan syariat dan akal, juga memperhatikan lafazh-lafazh syariat lalu mereka mengungkapkannya dengannya selama mereka mampu. Maka barangsiapa berbicara dengan hal-hal yang mengandung makna yang batil yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka mereka membantahnya. Dan barangsiapa yang berbicara dengan lafazh bid’ah yang mengandung kemungkinan makna yang benar dan batil, maka mereka pun menganggapnya sebagai bid’ah juga. Dan mereka berkata: Dan beliau berkata sebagaimana disebutkan di dalam Al-Fatawa (28/22): “Pokok agama ada dua: Pertama: Kita tidak beribadah kecuali kepada Allah saja. Kedua: Kita beribadah dengan hal-hal yang Dia syariatkan, bukan dengan bid’ah. Hal ini sebagaimana firman Allah:

“Untuk menguji kalian siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Al-Fudhail bin Iyadh berkata: “Maksudnya adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar.” Beliau ditanya: “Apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya sebuah amal jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima, demikian juga jika dia benar namun tidak ikhlas maka tidak akan diterima pula, sampai amal itu ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah yang ditujukan untuk Allah, sedangkan yang benar adalah yang sesuai dengan As-Sunnah …” hingga perkataan beliau: “Maka jika para masyayikh dan para ulama terkadang pada keadaan dan perkataan ada yang ma’ruf dan ada yang mungkar, ada yang berupa petunjuk dan kesesatan, ada yang lurus dan menyimpang, maka wajib atas mereka untuk menimbangnya dengan Kitabullah dan sunnah Ar-Rasul, lalu mereka menerima apa yang diterima oleh Allah dan Rasul-Nya dan menolak apa yang ditolak oleh Allah dan Rasul-Nya.” Perlu diketahui bahwa agama kita berdiri di atas 3 pondasi:

Pertama: Iman kepada Allah.

Kedua: Memerintahkan yang ma’ruf.

Ketiga: Melarang dari kemungkaran

Allah Ta’ala berfirman:

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia karena kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)


Untuk selengkapnya diunduh file pdf berikut

Sumber : Bingkisan Indah Teruntuk Ahlussunnah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: